My World

Minggu, 28 Februari 2010

Latarbelakang munculnya Kerajaan Israel dan Yehuda

Tidak lama setelah kematian Salomo, yaitu pada tahun 992 SM lalu struktur mulai dibentuk oleh Daud dan ia ambil bagian, kemudian dipindahkan oleh dua ibukota yang bersaing dalam dua peristiwa yang penting. Suatu kali di masa perang antar bangsa Israel Utara dan Selatan, dalam persatuan yang bersahabat, sampai pada akhirnya Utara dikalahkan oleh bangsa Syria pada 200 tahun kemudian (772/1). Kehebatan dari bangsa itupun berakhir. Hal itu kemungkinan bisa dikatakan bahwa suatu waktu dimana segala peristiwa terjadi secara relatif dan menjadi peristiwa yang penting.
Sumber utama kita adalah buku Raja-raja, yaitu kumpulan dari tulisan-tulisan sejarah yang begitu besar, yang kemungkinan secara singkat dijelaskan sebelum kejatuhan dari Yerusalem, walaupun lebih difokuskan pada teologi evaluasi dari situasi dan sistem kerajaan dengan detail pada sejarahnya. Sejarah Israel selanjutnya terlihat dari buku pada nabi-nabi mula-mula, yaitu nabi Amos dan Hosea. Pada penelitian alkitab lebih lagi kita memiliki awal dari deskripsi kontemporer yang secara langsung pada sejarah Israel dan klarifikasinya tidak ditemukan secara mendetail.
Kerajaan yang terbagi dua: 50 tahun awal (922-876)
Perpecahan dan konsekwensinya. Seperti dikatakan pada bab sebelumnya, kekejaman politik Salomo sama sekali mengasingkan Israel Utara dari pemerintahan Yerusalem. Hanya dengan kekuatan tangan raja dapat menghentikan pemberontakan. Untuk itu, tidak mungkin bangsa itu segera dipindahkan, kemarahannya tertahan dan akhirnya meledak dan Israel menjadi terpecah-belah.
Pemisahan Israel Utara. (1 Raja-raja 12:1-20). Satu kesan yang diperoleh kemungkinan telah menghindari anak raja Salomo, yaitu Rehabeam yang menguasai kebijaksanaan. Sikap arogan dan kebodohannya membuat suatu pemberontakan. Rehabeam ternyata telah menguasai takhta di Yerusalem, dan telah diterima sebagai raja di Yehuda, tanpa masalah. Setelah Yerusalem menjadi sebuah tanah milik Kerajaan, tuntutan rumah Daud kelihatannya telah diterima di Yehuda dimana prinsip dari penggantian dinasti tidak pernah dipermasalahkan di sana. Tetapi, sejak monarki keduanya merupakan satu kesatuan, yaitu kesatuan antara Israel dan Yehuda dalam sebuah oknum kerajaan, hal itu penting bagi Rehabeam dalam perjalanan menuju Sikhem untuk dinyatakan sebagai raja Israel dengan mewakili suku Utara. Demikianlah ia menemukan suasana yang sulit untuk dikerjakan. Sebagaimana dalam penerimaannya, mereka menuntut bahwa beban yang sangat berat dipaksakan oleh Salomo. Rehabeam telah dikalahkan, hal itu memungkinkan bahwa daerah itu akan diselamatkan. Tetapi dia ternyata sedikit bebal, bodoh dan sedikit merendahkan pemikiran yang benar terhadap sasarannya. Penolakan dari kepala pengacaranya dan tingkah laku kaum muda tersebut kelihatannya menjadi buruk. Dengan bermulut besar ia menolak permintaannya, kemudian perwakilan dari Israel marah dan mengumumkan pemisahannya dari kota tersebut. Panglima Rehabeam corvee, yang dia kirim untuk mengalahkan para pemberontak, dihukum mati, dan Rehabeam sendiri melarikan diri dengan memalukan. Suku Utara kemudian memilih Yerobeam, yang sementara waktu dikembalikan dari Mesir, sebagai raja mereka.
Perpecahan antara keduanya bertengkar dengan sengitnya akibat dari kemerdekaan suku tersebut dimana Daud dan Salomo telah ditindas tetapi tidak pernah dilenyapkan, dan seperti ketidakberhasilan pemberontakan dari Sheba(2 Samuel 20), Israel menolak kesatuan tersebut dengan Yehuda dibawah wilayah Daud. Hal ini sangat jelas bahwa ukuran penindasan dari Salomo terutama bertanggung jawab. Tetapi sebuah keinginan untuk menggiatkan kembali sebuah tradisi kepemimpinan juga terlibat, sebagai aturan yang diperankan oleh nabi-nabi tertentu yang diusulkan. Salah satu dari mereka akan dipanggil kembali, yaitu Ahijah, dalam nama Yahwe mengangkat Yeroboeam menjadi raja Israel (I Raja-raja 11:29-39), dan nabi lain Shemaiah, ketika Rehabeam mengumpulkan kekuatannya untuk membatalkan pemberontakan tersebut (12:21-24), memerintahkan mereka untuk berhenti, mengumumkan bahwa apa yang terjadi adalah keinginan Allah Nabi-nabi itu tetap bertahan, seperti nabi Samuel, dalam tradisi persekutuan Israel. Mereka benci karena pelanggaran hak istimewa yang dilakukan di daerah tersebut dan melihat keangkuhan perlakuan Salomo dan perkembangan ibadah yang asing itu sebagai pelanggaran perjanjian Allah yang besar. Berpegang teguh pada tradisi kepemimpinan karismatik, mereka tidak mengenal dengan baik dinasti Daud untuk memerintah Israel dalam kepribadiannya. Lagipula, mereka seringkali tidak disukai daerah tambahan untuk kuil bagi suku Israel dan perebutan pengawasannya. Ahijah dari Shiloh mungkin tidak berarti. Nabi-nabi itu mewakili Israel untuk mundur dari kerajaan Daud-Salomo dalam waktu yang sangat lama, sebagai revolusi yang dibutuhkan. Menarik bahwa bangkitnya kekuatan Yerobeam secara formal mengikutnya, seperti sesuatu yang terjadi pada Saul: penunjukkan nabi diikuti oleh sambutan yang umum.
Kejatuhan dari kerajaan. Dalam memprovokasi, sebagai konskwensi dari perpecahan menjadi suatu masalah. Baik Israel maupun Yehuda memiliki masalah internal, memiliki kemampuan atau kemauan untuk menjaga atau, bahkan mencoba: sangat mudah menuju kegagalan. Suku Aram yang tinggal di Utara dan timur telah kalah oleh suku Damaskus. Sebagai oposisi, Damaskus dengan cepat menjadi lebih kuat posisinya dan menjadi suatu generasi yang ditakuti oleh Israel. Bagian selatan dan barat merebut Gat, dimana Yehuda masih berkuasa, menjadi bebas dari dominasi kaum Israel. Di bagian timur situasi semakin kacau. Ammon, yang sudah dikuasai oleh Daud (2 Samuel 12:30), suatu keyakinan akan Israel tidak mau dikuasai oleh Yehuda, dimana tidak lama memberikan akses kepadanya; kecewa akan pemerintahan pada abad berikutnya, dia tidak menunjukkan kekusaannya pada waktu itu. Seperti Moab sudah mendapat kebebasan, sejak Moab dikuasai oleh Israel ke Omri (876-869). Seperti Edom, yang situasinya belum jelas. Sebagai fakta Yehuda masih berkuasa akan Gulf Aqabah dalam arti masih berkuasa akan tanah Edom.
Israel dan Yehuda menjadi daerah bagian suku yang kedua: Yehuda dengan penguasaan suku, ditambah daerah Filistin (Gat), Negeb sejauh Ezion-geber, dan mungkin bagian dari Edom; Irael dengan ketua sukunya ditambah dengan kota Kanaan di Utara dan Esdraelon dan kemungkinan timur tanah Aram dari laut Galilea. Kedaulatan Daud dan Salomo telah hilang. Kita mungkin dapat berasumsi terjadi kekacauan juga pada system perekonomian. Tetapi dengan pemungutan upeti yang dilakukan oleh Salomo pada daerah Jordan dan terjadi monopoli Israel sehingga mengakibatkan dampak pada keadaan ekonomi Israel.
Persaingan antar kota: bagian peperangan. Perpecahan mengakibatkan adanya 2 generasi bertempur. Posisi keduanya menjadi semakin lemah.
a. Generasi pertama: Rehabeam pada Yehuda (992-915), Yerobeam pada Israel (922-901). Rehabeam tidak memiliki mental yang kuat untuk berperang dengan Israel Utara pada area yang diinginkan. Sebenarnya, Yehuda lebih kecil daripada Israel kenyataannya pada akhirnya terjadi kemarahan yang menguasai mereka di daerah Utara. Pasukan yang dibentuk Salomo tidak dapat membantunya, dan pasukan akhirnya tidak bertahan lama untuk setia mengabdi kepadanya. Akibat adanya perubahan besar dalam bagiannya, Utara menjadi lepas kendali, dan pasukan khusus Yehuda juga tidak mencukupi. Kemudian, populasi Yehuda yang sedikit antusiame terhadap perang menjadi berpengaruh. Ramalan Shemaiah tidak diragukan merefleksikan adanya sentimen yang menyebar secara luas: Mereka diizinkan untuk pergi! Tetapi, Yerobeam tidak dapat dihitung suku yang menantikan kebebasan dari Yerusalem. Ada tambahan sebagai pasukan khusus Salomo pada suatu daerah dimana pemisahnya dengan daerah lain sehingga membuat mereka dapat menang, dan pasukan yang kuat untuk mempertahankan pemerintahan. Peperangan sering terjadi pada daerah Benyamin.
Simpatisan Benyamin berpikir kurang kagum akan pengelompokan, sejarah akan Benyamin merupakan suku Utara, kedudukan dari Saul; satu yang dapat menjadi bagian dari pemerintahan dalam istirahatnya, dan sangat mungkin itu terjadi (1 Raja-raja 12:20). Tetapi Rehabeam tidak mengizinkannya. Sejak Yerusalem berada pada pemisah dari Benyamin, kehilangan Benyamin akan membahayakan ibukota. Rehabeam mengambil langkah untuk menggunakan daerah Benyamin (14:30) dan ternyata keberhasilan menguasai pemisah antara kedua daerah tersebut sebelah utara terbatas. Sebagai hasilnya, ibukota berhasil dikuasai dan keuntungan dari Benyamin menjadi keuntungan bagi Yehuda.

b. Penyerbuan Shishak (1 Raja-raja 14:25-28). Tetapi harapan Rehabeam telah dimiliki oleh ultimatum untuk menguasai daerah Israel dan memecah belah oleh penyerbuan Mesir pada tanah itu selama 50 tahun. Pada dinasti Salomo, abad ke 21, dimana Salomo telah terhubung oleh militer yang menguasai dari penghargaan Libya bernama Shishak (Shoshenq), dan dinasti 22 (Bubastite). Shishak berharap menekankan otoritas Mesir di Asia, dan atas alasan ini dicari apapun yang diinginkan untuk meruntuhkan posisi bangsa Israel, dimana tanpa bertanya mengapa dia memberikan Yerobeam perlindungan terhadap amarah Salomo. Rehabeam, yang telah mengetahui jelas apa yang direncanakan Shishak, menggunakan kekuatan fisik untuk melihat pertahanan dari area yang diminati, pendapat apapun pada waktu itu atau kemudian yang menguatkan seri dari kunci untuk bertahan lebih dekat kepada Yehuda dari barat dan selatan adalah tidak tahu akan apa yang dilakukan. Shishak memukul dengan kekuatan yang hebat. Dalam Alkitab dikatakan bahwa Rehabeam menghasilkan pasukan yang sangat besar bagi Shishak untuk membebaskan dia mengambil hal yang impresiv akan penyerangan kepada Yerusalem saja. Tetapi Shishak memiliki kata yang ditulis Karnak, dimana terdaftar 150 tempat yang dianggap telah diambil, bersama dengan arkeologi dengan satu atau berbagai alasan untuk mempercayai sesuatu, biarkan kita melihat jarak sebenarnya.
Pasukan Mesir menghancurkan pasukan Palestina. Mereka menguasai gedung militer Salomo pada wilayah tersebut (Arad dan Ezion-geber memberikan pendapat akan penghancuran waktu itu), dan berpindah sejauh Edom. Berbagai kota di selatan yang kota pegunungan dan kota dari Yehuda telah diserang dan beberapa telah dihancurkan, dan lebih dekat ke Yerusalem melalui Aijalon, Beth-Horon dan Gideon dan memiliki pasukan khusus kota itu untuk memusnahkan, suku Mesir menekan pada Israel Utara, untuk memperluas penghancuran dimana-mana. Pada daerah Timur mereka menguasai trans Jordan (Penuel, Manaheim) dan bagian Utara sejauh Esdraelon; pada Megiddo, sebagian kecil dari kesuksesan pecahan loh batu telah ditemukan di Shishak. Serangan Israel dan Yehuda rendah dan tidak dihargai pasukan khusus mereka. Beruntung keduanya, tetapi, Shishak sudah dapat mengikuti keberuntungannya dan membangun kembali kerajaan Mesir di Asia. Kelemahan Internal menghentikan Mesir akan hal itu. Pasukan Mesir yang menjadi keuntungan mereka meninggalkan mereka dan kembali dari Palestina, mungkin mengamankan kepala jembatan pada perbatasan Selatan sekitar Gerar. Rehabeam yang mulai melemah dalam pasukannya memindahkan perhatian kedaerah Selatan, karena sudah tidak ada posisi untuk menghadapi Israel, walaupun cara masih dipikirkan, berkumpulnya kembali Israel dengan Yehuda menjadi suatu hal yang tidak mungkin.

c. Akhir dari bagian peperangan. Peperangan sepanjang perbatasan kedua wilayah tersebut, terus berlanjut sampai zaman Rehabeam anak Abijah (915-913) dan kesuksesan Asa (913-873). Penulis memberitahukan pada kita bahwa Abijah berhasil mengalahkan Yerobeam pada perbatasan Efraim dan melanjutkan sesuai rencana untuk menggunakan Bethel dan daerah sekitarnya. Adalah mungkin Abijah melakukan perjanjian dengan Damaskus, dan demonstran yang telah setuju dengan kekuatan tersebut pasukan Yerobeam banyak yang dikeluarkan, dan masuk kepada Abijah. Tetapi keuntungan hanya sementara, pada generasi Asa berikutnya mereka mendapatkan tekanan dalam mempertahankan ibukota Negara. Asa seperti Rehabeam, harus mendapat penyerbuan dari Selatan, sekarang bagian Zerah “Ethiopia” (II Chron. 14:9-14). Seperti yang dikatakan ketika Shishak keluar dari Palestina, Meninggalkan Garrisons perbatasan sekitar Gerar; adalah mungkin daerah ini dikuasai oleh Zerah. Dapat dikatakan kekuatan dari Israel merupakan karena kerjasama dan hubungan dengan Damaskus (I Raja-raja 15:19). Ternyata, sejak kita tidak mengetahui bahwa Baasha telah menjadi raja, walaupun dia mungkin sejak zaman Asa. Dalam kejadian lain, Asa bertemu pasukan dekat perbatasan pertahanan dari Mareshah yang berniat menyerbu mereka, mengalahkan mereka dan membawa mereka ke Gerar, dimana daerah yang mendapat tekanan. Dengan demikian, Mesir mencoba memberikan perubahan pada Palestina, salah satunya menghentikan: apa yang menjadi turun temurun yang melemahkan, Mesir tidak memberitahu bahwa ia akan menghancurkan Israel atau Yehuda pada waktu yang ditentukan. Baasha, tidak menggunakan mentalnya untuk memberikan masukan tentang perbatasan antara keduanya yang diperbaiki.
Kemudian Asa menjadi raja, pasukannya patuh kepada bagian selatan yaitu Benyamin, mengambil dan melingdungi Ramah, hanya berjarak 5 mil bagian utara dari Yerusalem, tempat ini menjadi ibukota yang sangat buruk dan berbahaya (1 Raja-raja 15:16-22). Asa, yang dalam kondisi tertekan, memberikan hadiah kepada Benhadad I bagian Damaskus. Dengan karakteristik Benhadad, mengirimkan pasukan ke utara Galilea, dan menyerang Baasha keluar. Pada akhirnya Israel kehilangan penguasaan daerahnya di Transjordan utara dari Yarmuk pada waktu itu. Setelah itu Asa menyatakan untuk menyerang suatu tempat dari Ramah, menggunakan material untuk menguatkan pertahanan Geba dan Mizpah, menjaga perbatasan lebih jauh ke utara dan memindahkan ibukota dari bahaya. Asa juga menguasai daerah Efraim dari Abijah. Kemarahan akan keputusan tersebut juga terjadi pada 2 generasi tersebut, hal tersebut harus dimengerti pada daerah yang dapat memenangkannya. Peperangan tersebut telah mempengaruhi rakyat daerahnya dan ekonomi kedua wilayah ini. Suatu tanggapan yang tidak dapat diterima dan kebijakan tersebut yang membunuh, dari hal ini membuat kedua wilyah ini mengalami kejatuhan oleh pemberontak disekitarnya.



KERAJAAN ISRAEL
(Oleh: Adriyani E. G. Sitanggang, Aku Rindu Iring Tuhan ARIT Tambunan, Andi Joko Limbong, Andro Hisar Parada Sibarani, Bustanil R. Simanjuntak, Dairi Ivan R. Sihombing, Valiant J. Tampubolon )

Persaingan antar kota: Kondisi Internal. Kedua wilayah ini, hampir serupa, tetapi ada sedikit penghormatan yang berbeda. Yehuda yang lebih kecil dan lemah, masyarakat yang homogeny dan kondisi geografi yang terisolasi. Israel lebih besar dan makmur dan berada dekat pusat dari sistem suku yang tua, sehubungan dengan besarnya populasi Kanaan maka kesalahan geografi membuat mereka keluar. Lebih lagi, tradisi pada dinastinya: perbedaan teori dari kota untuk menguasai. Karena dengan hal ini sejarah internal dari kedua wilayah dapat dikatakan berbeda.
a. Rencana Administratif Yerobeam. Target Yerobeam dalam membuat kota tidak nyata. Dia memulai dengan ibukota, buruknya keadaan administrasi, buruknya organisasi militer, dan kebutuhan pemerintah. Semua hal itu harus terpenuhi. Keadaan itu merupakan sesuatu yang sulit bagi Yerobeam untuk diperbaharui karena kemampuannya dalam hal ini masih kurang. Awalnya ia menaruh ibukota pada Shikem (1 Raja-raja 12:25). Alasannya agar Daud memilih Yerusalem. Shikem merupakan lokasi Central, sejak tradisi sebelumnya, dan sejak Kanaan-Ibrani yang saling berbeda termasuk Manaseh. Tetapi kekalahan terjadi karena system kesukuannya, adalah pilihan untuk mengurangi rasa iri kesukuan dan juga permohonan kepada orang yang bukan Israel. Penggantian akan Shikem adalah perbaikan dari Yerobeam. Yerobeam juga membangun Penuel di Transjordan, tetapi penentuan ibukota belum jelas. Kemudian ibukota pindah ke Tirzah. Alasan akan perubahan tidak diketahui; tetapi Tirzah juga asli bukan suku Israel, dan perubahan dari kota menjadi system kesukuan dan dapat menjadi keuntungan system politik yang sama. Administrasi Yerobeam belum dibicarakan.
Sejauh ini,kebijaksanaan Yerobeam sama seperti yang dilakukan Salomo. Petunjuk bagi Samaria Ostraca menjadi system politik yang sama pada abad ke 80, dan dipertahankan sepanjang waktu. Yang kita tahu akan pemusatan Yerobeam, perbaikan militer atau tidak, walaupun keuntungan yang didapat relative tetap. Corvee dipanggil lagi untuk membangun Shikem, Penuel, dan Tirzah. Tidak ada yang menarik dari Yerobeam, dia tidak dapat mengebalikan Israel menjadi kondisi yang lebih sederhana.

b. Rencana agama Yerobeam. Tetapi aksi Yerobeam yang paling penting adalah pendirian kota resmi untuk menyaingi Yerusalem. Banyak suku Israel menyetujui bait Yerusalem sebagai kesuksesan, sehingga kesetian terhadap Yerobeam mulai pudar. Yerobeam kehilangan partisipasi masyarakatnya dalam hal pemujaan yang mengumumkan peraturan haram Davidic. Jadi kedua daerah ini bertahan dan menekanakan ajaran agama, dia menyiapkan 2 bait suci sebagai kaum oposisi yaitu Bethel dan Dan. Yerobeam menjadi reformator dan juga sebagai innovator. Buku Raja-raja, adalah refleksi dari tradisi Yerusalem. Hasil Yerobeam dalam pembentukan kekhususan agama terutama saat penyembahan dan menambah keyakinan. Dalam hal lain Yerobeam membuat anak lembu emas pada Bethel dan Dan dan membuat itu menjadi berhala. Tetapi hal ini sangatlah tidak menggambarkan Yahwe, dan seperti biasa, Yahwe yang tidak kelihatan tetap berdiri atau menjadi pusat dari kepercayaan, menjadi yang disembah di bait suci. Tetapi simbol lembu emas tetap ada, dan ditolak oleh norma Yahwis, karena sangat dekat dengan kematian. Sejak semakin banyaknya warga Israel Utara, setengah dari orang Kanaan telah dibaptis, hal ini menjadi tanda bahaya karena membuka peluang untuk sebuah kekacauan terhadap penyembahan Yahwe atau Baal, dan membuat Israel untuk menyembah banyak dewa. Penulis Raja-raja tidak menulis dengan tepat. Tetapi di Israel Utara masih biasa saja, tidak membawa kehancuran agama dan masih kudus. Dalam hal ini, ditemukan kondisi kepercayaan Yerobeam sangat rapuh dari awal, yang akhirnya hancur dan penolakan akan dia, seperti Samuel menolak Saul.

c. Perubahan Dinasti di Israel: 992-876. Tidak ada karakter daerah bagian utara yang lebih dari pada keekstrimannya dan kelabilannya. Dimana Yehuda masih dilekatkan dengan hal-hal mengenai Daud sepanjang sejarah, takhta Israel berubah menjadi kekerasan selama 50 tahun awal. Penjelasan tentang tradisi karismatik dalam kesuksesan dinasti tersebut tidak diketahui. Yerobeam seperti yang dikatakan, datang dengan kekuatan dari nabi dan aklamsi dari penduduk tersebut yakin akan perjanjian. Kerajaan Israel berbentuk karismatik. Tetapi dalam aslinya sangat tidak mungkin kembali ke karismatik. Ketika Yerobeam mati. Nadab (901-900) berusaha menggantikannya (1 Raja-raja 15:25-31). Tetapi ia langsung kalah oleh Baasha, yang menyerang rumah Yerobeam, dan mengambil takhta. Baasha seperti Yerobeam, memiliki title nabi, dan memiliki kekuatan keluar dari waktu kehidupan (900-877), tetapi ketika anaknya Elom (877-876) mencoba untuk sukses juga, tetapi mati oleh pasukannya Zimri, siapa yang menjadi bagian dalam rumah Baasha, membuat dirinya menjadi raja. Zimri memiliki para nabi, tetapi tidak memiliki dukungan nabi terkenal.
Kemudian Omri pindah dari Tirzah dengan pasukannya, dan berhasil merenggut nyawa Zimri. Takhta kerajaan tersebut diperebutkan antara para pesaing, pada tahun sebelumnya Omri menguasai takhta tersebut, tanpa nabi yang tidak diketahui. Ilustrasi antara tradisi kepemimpinan dan stabilitas dinasti tersebut. Yerobeam dan Baasha memiliki rencana penubuatan, tetapi dibalik itu yang mendukung mereka adalah nabi yang sama. Para nabi ini mewakili tradisi Israel setelah Samuel, tetapi sampai berapa lama Israel dapat bertahan dari penytanyaan kemundurannya.

Kerajaan Israel di utara, lanjutan
(Oleh: Arnes Simanjuntak/ Boyntri B. Sitohang/ Christian Sipahutar/ Daniel Tambunan/ Ernawati Doloksaribu/ Juprianto Hutabarat/ Vita Sani Hutapea)
Latar Belakang
a. Dunia Sekitar
Kerajaan Israel merupakan kerajaan yang kaya bila dibanding dengan kerajaan Yehuda. Kerajaan Yehuda memiliki penduduk yang seragam. Kerajaan Israel berada di dekat pusat peribadatan kuno, namun populasi penduduknya adalah bangsa Kanaan dan lebih terbuka terhadap pengaruh luar.
Yerobeam merupakan raja Israel yang pertama. Dia memilih pusat pemerintahan/ ibukota di Sikhem. Sikhem memiliki posisi yang strategis, memiliki asosiasi peribadatan lama dan karena daerah itu adalah daerah orang Kanaan dan Ibrani yang didalamnya terdapat suku Manasye, namun mereka memiliki kesukuan yang dekat, sehingga pilihan itu menimbulkan sedikit kecemburuan dan pada saat yang sama menyenangkan masyarakat non-Israel.
Yerobeam membangun kota Pnuel didaerah Transjordan. Kota itu hanya alternatif saja, sebab alasannya masih belum jelas. Kemudian ibukota kerajaan dipindahkan ke Tirza, karena Sikhem tidak dapat bertahan. Kota Tirza menawarkan keuntungan politik yang sama dengan kota sebelumnya.
Bangsa Israel masih banyak yang sering melakukuan perjalanan ke Yerusalem, sehingga Yerobeam membuat pusat keagamaan Israel di kota Dan dan Bethel yang dekat dengan perbatasan Yehuda. Israel masih memiliki kekurangan. Mereka tidak memiliki Tabut Perjanjian. Kemudian Yerobeam membangun 2 buah patung lembu emas di kota Dan dan Bethel tersebut supaya memberikan simbol kehadiran Yahweh. Yerobam memilih/ mengangkat Imam dari orang-orang biasa yang seharusnya adalah suku Lewi. Suku Lewi merupakan pemuja Yahweh sehingga suku Lewi memilih menjadi Imam di Yerusalem bukan di Israel. Yerobeam selalu mengubah kultus agama dengan mengubah waktu perayaan penting.

b. Kerajaan Sebelumnya
Ada 5 raja yang memerintah atas Israel sebelum terbentuknya dinasti Omri, yaitu ketika Yerobeam, raja pertama (922-901) meninggal dan digantikan oleh Nadab, anaknya(901-900). Ketika di medan pertempuran bersama tentaranya, dia dibunuh oleh Baesha salah satu pelayannya, yang telah membunuh seluruh anggota keluarga dari Yerobeam. Dia merebut tahta raja, Baesha, sama seperti Yerobeam, mengangkat para nabi dan menyembahkan kekuatannya selama hidupnya (900-877). Setelah Baesha meninggal, dia digantikan oleh anaknya Ela (877-876). Kemudian Ela dibunuh oleh tentaranya yang bernama Zimri yang hanya memerintah selama 7 hari. Sebab Omri menduduki Tirza dan menyudutkan Zimri. Sehingga Zimri bunuh diri dan akhirnya digantikan oleh Omri.

2. Kerajaan (Dinasti Omri)
Kerajaan Omri
· Kesembuhan Israel
Stabilitas Israel yang dahulu dibawa kembali ke Israel oleh Omri dimana dulu tahtanya dirampas. Melalui laporan singkat mengenai masa kepemimpinannya (876-869), dia mampu membangun sebuah dinasti yang merupakan sebuah kekuatan untuk generasi ketiga dan dia mulai memperbaiki Israel dengan mengukur kekuatannya dan kemakmurannya.
Situasi politik ketika penobatan Omri
Satu kemungkinan yang dapat dikatakan bahwa pengangkatan omri yang menjadi pemimpin bukanlah peristiwa yang cepat, untuk 25 tahun ketidakstabilan membuat Israel tidak berdaya mempertahankan diri dari permusuhan dengan tetangga, khusunya bahaya dari kerajaan Damaskus-Aram yang dengan cepat merebut posisi Israel sebagai kekuasaan yang dominan di Palestina dan Syria.
Mesir dengan pasti untuk kesekiankalinya mencoba berspekulasi, namun hasilnya adalah kesia-siaan, tidak mampu mencampuri Palestina melalui diskusi dalam periode yang ada. Tetapi yang lebih dari dugaan, di Mesopotamia sebuah kerajaan baru bangkit yaitu Asyur. Itu akan membangkitkan Asyur sebagai sebuah faktor yang mayoritas dalam dunia politik untuk milenium kedua.
Selama kepemimpinan Omri, dia melancarkan kekuatannya melalui laut. Jarak barat dan selatan melintasi Syria dan Libanon dan membersihkan senjatanya dalam laut tengah, mengambil upah dari kota Fenisia, Byblos, Sidon, dan Tyre. Sajak Asyur mengundurkan diri maka perebutan tidak lagi permanen tetapi terdapat sebuah pertanda buruk, satu berasal dari sebuah wilayah kecil di Syria dan Palestina, yang bangkit untuk membuktikan bahwa ada bahaya yang menyebabkan kematian.

Politik luar negeri Omri
Orang-orang Asyur berhubungan baik dengan Israel sebagai “keluarga Omri” hingga dinasti Omri runtuh. Politik Omri bagi bangsa Israel menunjukkan kembali pemerintahan Daud dan Salomo. Hal ini dapat ditemukan dalam hal perdamaian internal, hubungan persahabatan dengan Yehuda, menutup hubungan dengan Fenisia dan melawan orang-orang Aram. Sistem politik ini dituraunkan Omri kepada Ahab, puteranya (869-850 s.M)
Omri sendiri membuat suatu persekutuan dengan Ittoba’al, raja Tirus, yaitu menikah Ahab dengan Izebel, puteri raja Tirus. Hal ini memberikan keuntungan yang besar bagi bangsa Israel, dimana Tirus memberi pengaruh besar dalam perolehan bahan pangan (import), mereka juga memesan hasil pertanian dari Israel dan banyak kesempatan dalam berdagang. Disisi lain, Tirus juga ingin mengimbangi Damaskus dan membangkitkan kembali hubungan perdagangan dengan Isreal melalui tanah bagian selatan.
Tahap berikutnya, mengenai persekutuan Israel dengan Yehuda. Pada awal pemerintahan Ahab, hal ini belumlah tampak. Persekutuan Israel dengan Yehuda terlihat dalam tindakan Ahab yang menikahi puterinya “Athalia” dengan Yoram, putera Yosafat, raja Yehuda. Persekutuan diantara keduanya terjadi dalam bidang militer dan perdagangan, kemudian berusaha menghidupkan kembali perdagangan di seberang lautan Ezion-Geber. Meskipun usaha ini gagal kenyataannya tetap saja menunjukkan suatu pengharapan untuk merebut kembali sumber kekayaan Salomo. Permusuhan diantara keduanya berakhir, Israel dan Yehuda menunjukkan kekuatan dalam melawan negara tetangga mereka. Seperti Moab, Arnon, Edom dan Filistin (2 Raja-raja 3:4; 8:22).
Kerajaan Ahab
Permusuhan dan Persekutuan dengan Damaskus
Israel juga berhasil dalam berbalik kepada musuhnya yang paling berbahaya, Ben-hadad dari Damaskus. Sementara kita mengetahui bahwa Omri tidak bertindak apa-apa dalam melawan Aram, kenyataannya bahwa ia mulai menaklukkan Moab yang bertujuan untuk mempertahankan batas-batas wilayahnya. Ahab telah beberapa kali memerangi mereka. Walau sumber-sumber yang kita miliki, tidak mengizinjakan kita untuk merekonstruksi bagaimana jalannya peristiwa itu dengan pasti, akan tetapi yang jelas pada akhirnya keberuntungan memihak kepada Israel. Kesan atau keberuntungan lainnya (1 Raj 20) adalah bahwa pada awal pemerintahan Ahab, Aram memaksa masuk ke Israel, tanpa ragu mengekang kebangkitan ancamannya, Ahab dipaksa untuk menyebut Ben-hadad sebagai tuan besarnya. Tapi kemudian, setelah sebuah tindakan berani yang memukul mundur pada penyerbu, sebuah peperangan yang kedua si sebelah timur Yordan keluar dengan kemenangan besar bagi Israel dan penangkapan Ben-hadad. Ahab memperlakukan musuhnya dengan kemurahan hati yang luar biasa tuntutannya hanyalah kelonggaran yang sebelumnya adalah pemerasan bagi Israel, ia membuat sebuah perjanjian dengannya dan membiarkannya pergi. Hal tersebut adalah kejijikan bagi beberapa nabi tersebut, yang tidak lagi peduli karena apa yang mereka langgar dalam aturan perang suci. Dalam kesempatan lainnya, Ahab dan Ben-hadad bersekutu, alasannya adalah ancaman dari Asyur. Asyur-nasir-pal II yang memulai, disukseskan oleh Shalmaneser III (859-824 s.M). Dalam tahun pertama kekuasaannya, ia bergerak ke arah barat ke sungai Eufrat, melewati sungai itu dan memyeberang ke sebelah utara Syna ke pegunungan Amanus dan Mediterania. Raja-raja dari barat mengetahui dengan pasti bahwa tidak satu pun dari mereka yang dapat menghentkannya, dengan tergesa-gesa mereka membentuk koalisi. Pemimpin koalisi ini merekrut anggota dari Cilicia utara sampai Ammon, adalah Hadadezer (Ben-hadad) dari Damaskus, Irhuleni dari Hamath, dan Ahab dari Israel, koalisi ini menyumbangkan 2000 pasukan berkereta dan 10000 pasukan berjalan. Pada tahun 853 s.M Shalmanezer kembali menyebrang sungai dan bergerak ke arah selatan melalui Syria, di Qarqar, Orontes, koalisi tersebut bertemu dengannya. Walau Shalmanezer menyombongkan kekalahannya yang hancur, untuk sementara ia menyerah. Menunggu lima tahun lagi untuk mencoba kembali.
Situasi Internal Dinasti Omri
Polisi-polisi Omri dengan semangat dan giat telah menyelamatkan Israel dari bencana, mala petaka dan membuat bangsa Omri lebih kuat. Tetapi juga terjadi ketegangan-ketegangan yang menghilangkan hal-hal yang bermanfaat dan membuat situasi menjadi berbahaya.
Situasi Sosial Ekonomi
Semua fakta-fakta menunjukkan bahwa Israel di bawah pemerintahan Omri mengalami suatu kemakmuran dalam materi. Terkhusus kemakmuran itu lebih baik di ibu kota Israel, Samaria. Arkheologi menunjukkan bahwa kota ini didirikan oleh Omri dan dilengkapi Ahab yang membangun benteng-benteng di Palestina dengan mutu, kualitas dari pekerja-pekerja. Omri juga menggunakan bangunan-bangunan untuk kegiatan setiap hari.
Keagamaan yang krisis: Izebel
Terjadinya suatu krisis keagamaan dalam politik dinasti Omri. Seperti Y kita lihat hubungan dari Tirus sebagai hubungan kekeluargaan dengan pernikahan Ahab dengan Izebel. Pemujaan terhadap dewa/allah Tirus yaitu Ba’al Melqart dan Asherah, Izebel secara sadar mengikuti dan membawa agamanya ini, dia (Izebel) melanjutkan pemujaan kepada allahnya yaitu Melqart. Hubungan yang terjadi melalui perdagangan dilanjutkan dia untuk mempraktekkan agamanya di tanah Israel. Bait kepada Baal Melqart telah dibangun untuk suatu tujuan di Samaria (1 Raj 16:32). Inilah suatu kejadian dimana Salomo telah melakukan hal yang sama melalui istri-istri asingnya itu, dan kadang-kadang untuk membuat suatu peribadahan di Israel. Izebel adalah wanita yang kuat pikirannya. Dimana, dia telah berani untuk mengadakan ibadah sebagai budaya.
Elia
Melalui tangan besi, raja sukses dalam mengadakan perlawanan bawah tanah, kenyataan pahit yang membuat kebencian yang membekas dalam hati banyak orang Israel. Meluapkan seluruh musuh-musuh Izebel. Merealisasi dan melambangkan lawan-lawan mereka, nabi Elia sosok yang takut dan begitu terpesona, pembicara yang begitu semangat bahwa perbuatannya menjadi legenda di Israel.
Seorang Gilead dari dekat tepi padang gurun. Elia menaruh dengan teliti tradisi Yahweh. Dia menggambarkan seperti sosok wajah yang keras, sosoknya sendiri yang berpakaian yang memanggilnya, mungkin seorang Naziriti yang terus-menerus melakukan ritual untuk meminta kekuatan dalam perang, ditempat pembuangan yang seram, untuk menyiapkan sihir melawan Yahweh yang menjadi pertarungan: di Gunung Karmel, memperlihatkan Baal yang tidak menjadi Tuhan secara keseluruhan, memerintah orang-orang untuk memilih menjadi Yahweh, meletakkan nabi-nabi Baal dalam pedang, menhadap Ahab ketidakadilannya dengan kebun anggur dan kutukan akan kesalahannya melawan Naboth. Diikuti dengan kemurkaan Izebel, dia melarikan diri ke Horeb, hutan belantara asal Israel, untuk menemukan makanan dan menerima firman perjanjian Allah dan akhirnya dia menghilang di padang. Suara tidak setuju, meletakkan kereta pertempuran untuk sorga! Elia melambangkan sebuah mosaik tradisi primitif yang masih tinggal di Israel. Apa yang mereka pikirkan mengenai monarki atau pejabat kultus Yerusalem dan Bethel. Tetapi Elia menganggap Ahab dan Izebel sebagai kutuk yang paling utama. Dia menjadi Allah Sinai yang tidak membiarkan ada permusuhan kecuali dalam balas dendam untuk kejahatan melawan hukum perjanjian seperti Ahab. Elia mendeklarasikan perang suci di dalam bangsa penyembahan berhala dan kepada Tuhan. Lebih dulu dirinya sendiri menjadi salah seorang dari mereka, dia kelihatan dalam upacara kepada suami-istri dengan gerombolan nabi-nabi. Izebel mengakui Elia sebagai musuh besarnya.
Kerajaan Ahazia
Ahab mempunyai dua orang putera yang bernama Ahazia dan Yoram yang mempunyai arti ketaatan kepada Yahweh. Ahazia diangkat menjadi raja berdasarkan garis keturunan raja. Pada masa pemerintahan Ahazia, perkembangan penyembahan berhala terus meningkat karena Ahazia masih dibawah pengaruh ibunya Izebel. Oleh karena itu, dia melakukan hal yang sama seperti ayahnya Ahab. Ahazia memerintah Israel hanya selama 2 tahun karena kecelakaan yang diperolehnya saat dia jatuh dari kisi-kisi kamar atas rumahnya yang ada di Samaria.
Untuk itu dia menyuruh hambanya meminta petunjuk kepada Ba’al-Zebab di Ekron, Filistin. Tetapi hambanya gagal karena dia dihadang Elia. Oleh karena itu, Ahazia menyuruh 50 orang pasukan menangkap Elia. Apalagi Elia telah memberi kutukan terhadap Ahazia. Kemudian Ahazia meninggal. Dia tidak mempunyai seorang putra, sehingga dia digantikan oleh Yoram, adik laki-lakinya.
Kerajaan Yoram
Yoram, saudara Ahazia, sebagai gantinya yang mencoba merepormasi budaya Pagan dalam pemerintahannya tidak berhasil bahkan justru kebudayaan ini mengancamnya. Sementara situasi diluar pemerintahannya semakin memburuk. Yoram harus menghadapi pemberontakan di daerah Mesha oleh raja Moab yang bahkan dulu pernah menjadi pengikut ayah dan kakanya (2 Raja-raja 3: 4-27). Meskipun Yoram dengan bantuan kerjasama Yehuda mengusir Moab. Perang bersama Damaskus berlarut-larut. Delapan tahun setelah kematian Ahab, ayah mereka, perang Israel masih terus berlanjut di tempat itu, tidaklah bisa dilihat lagi. Yehuda juga ternyata menghadapi situasi yang berat. Yosafat meninggal setelah kematian Ahab. Yoram tidak memiliki figur yang baik dari segi kemiliterannnya. Dia yang memerintah atau mengusai Edom banyak menyebabkan berkurangnya tanah jajahan ayahnya. Banyak daerah yang memberontak dan mencapai kemerdekaannya (2 Raja-raja 8: 20-22). Dalam segala usahanya, Yoram tidak dapat mencegah hal ini. Dia kehilangan pelabuhan laut dan industri-industri dari Ezion-geber dan mengakibatkan suatu kondisi ekonomi yang serius untuk diperhatikan. Pada saat yang sama, perbatasan Libnah dan Filistin yang sedemikian membuatnya bebas.
3. Kelompok Oposisi
Elisha dan Nebiim. Di Israel, kelompok oposisi terhadap dinasti Omri berkelanjutan kepada puncaknya. Hal ini terlihat dengan adanya nabi Elia dan Elisha yang memberikan bentuk kekecewaan terhadap rajanya pada masa itu. Kemudian seperti sejarah Samuel sebelumnya, Elisha bekerja dalam menutup kelompok-kelompok nabi yang menyerupai kenabian ataupun sering disebut nabi-nabi palsu dan ini berkelanjutan sampai masalah keamanan kota atau bangsa itu. Kita menemukan kelompok dari mereka yang tinggal dalam kehidupan yang komunal (II Raja-raja 2:3; 5; 4:38-44), dukungan kepada pemerintah (4:42), sering dikenal dengan sebutan “Tuan” kepada kepala mereka (6:1-7). Mereka memberikan atau membentuk kelompok-kelompok dalam organisasi mereka (1 Raja-raja 22:1-28) dan (II Raja-raja 3:15).
Nabi-nabi tersebut ketika pada masanya telah menjadi sebuah sejarah selama dua ratus tahun di Israel. Mereka meresenpretasikan sebuah kehidupan yang estetik dalam kepercayaan kepada Yahwe dan manjadi cirri khas psikologis dari kepercayaan itu, kebanyakan setiap kepercayaan telah mengalami penurunan seperti yang dianut orang-orang Kristiani. Di dalam kehidupan bangsa Filistin yang mengalami krisis, kita akan mengobservasi tentang profesi mereka itu seperti yang terdapat dalam (1 Samuel 10:5-13, 19:18-24). Intensitas kepemimpinan mereka mengalami representastive dari kehidupan tradisi Ampiktioni manjadi bagian dari charisma.
Kemudian setelah mengalami kehidupan seperti itu maka mereka terbentuk menjadi kerajaan dan ini manjadi pusat kepercayaan terhadap Yahwe termasuk juga aturan-aturannya. Hanya saja kita menjadi mengerti untuk menjadi contoh yaitu Natan (II Samuel 12:1-15) atau tentang kehidupan kenabian dalam (II Samuel 24). Pada masa itu nabi-nabi juga terjun ke dalam dunia politik, kita telah melakukan penelitian akan hal itu. Kepemimpinan dalam nama Yahwe akan mengalami kesuksesan dalam pemerintahannya. Kepemimpinan bagi mereka cukup selalu memimpin dalam tradisi Ampiktioni dan aturan-aturan yang berlaku, dan oleh dia mereka telah memeriksa pusat atau ibukota mereka itu. Para nabi tersebut akan selalu berada dalam bidang apapun termasuk perang yang terjadi pada masa itu. Saat itu kesediaan untuk menciptakan rasa yang damai di dalam tradisi nasionalistik itu sangatlah sulit karena ini secara terus menerus diupayakan oleh kehidupan para nabi saja. Hal ini pula yang lah yang terjadi pada masa dinasti Omri. Pada dinasti Omri banyak sekali bermunculan allah-allah lain karena pengaruh bangsa lain yang berusaha menjajah wlayah itu. Ini menjadi masalah yang besar pada masa Omri, selain itu banyak kelompok-kelompok yang siap mengajukan ketidaksenangan terhadap kepemimpinan dinasti Omri.
Faktor-faktor dari pihak oposisi
Para nabi tidak bermaksud sendiri dalam kebencian mereka terhadap rumah Omri. Faktanya, ketika revolusi datang dipimpin oleh jendral pasukan (II Raj. 9-10) dan didukung oleh pasukan, berisikan ketidakpuasan dalam bagian tersebut, mungkin dengan ketidakefektifan tujuan yaitu perang dengan Aram dengan kualitas Yoram sebagai pemimpin. Keyakinan meliputi lingkaran militer yang memuakkan dengan apa yang dicapai sebagai kelembutan dalam daerah rumah-rumah, yang berasosiasi dengan kemerataan kemewahan dan kemerosotan kelakuan warga asing di antara orang-orang dengan hak istimewa. Kejadian Nabot mungkin tidak dapat luput dari perhatian atau gagal untuk membangkitkan amarah! Kita telah terlebih dahulu mendengar ketidak meningkatnya kepopularitasan, Yehu dan pasukan-pasukannya hampir pasti bersaksi di garis bersama apa yang mereka ketahui sebagai sentimen kepopularitasan.
Elemen konservatif lainnya seolah bersiap untuk pemberontakan, diantaranya ada keturunan Rekhab, jelasnya suku Keni (I Taw. 2:55), pemimpinnya, Yonadab diperhitungkan (I Raj. 10:15-17) dengan partisipasi fisik dalam revolusi yang terjadi. Satu setengah abad kemudian keturunan Rekhab masih terikat janji untuk tidak meminum anggur, ataupun mendirikan rumah anggur, tapi untuk tetap tinggal di pemukiman seperti para pendahulu mereka. Bagi mereka, Izebel dan komplotannya layak untuk penghancuran pengorbanan seluruh penjualan, dimana mereka bersedia untuk membantu.
Kerajaan Yehu
Sebuah putaran terjadi pada tahun 842. sebenarnya ini adalah sebuah bentuk “Perebutan Kekuasaan” secara umum, oleh Yehu. Seperti ini benar-benar menunjukkan kekejaman dan merupakan sebuah kemarahan yang meledak-ledak yang telah lama tertahan. Seperti itu adalah gerakan untuk melawan pasukan Omri besrta sebuah polisi-polisinya.
Menurut cerita, Elisa yang dipakai untuk menandingi, mengambil keuntungan dari ketidakhadiran Yoram, dan yang menguatkan kembali Yizreel dari luka-luka. Ia menyuruh seorang dari “putra nabi” untuk pergi ke markas besar bala tentara di Ramot-Gilead, dengan perintah untuk meminyaki (mengurapi) raja Yehu. Ketika prajurit-prajurit Yehu diajar tentang apa yang terjadi, mereka dengan segera menyambutnya dengan segera menyambutnya dengan gembira. Yehu kemudian menaiki kuda tempurnya, dan mengendarainya dengan segala kecepatan menuju Yizreel. Yoram disertai oleh saudaranya, Ahazia, yang ikut serta dalam gerakan di Ramot-Gilead (II Raj. 8:28) dibawa keluar untuk menemui Yehu. Yehu tanpa musyawarah menarik ikatan simpulnya dan menyerang Yoram hingga meninggal. Ahazia melarikan diri, namun sama seperti Yoram ia diserang sampai jatuh rubuh. Yehu kemudian memasuki Yizreel dan melemparkan Izebel dari jendela. Persiapan sekitar permusnahan tidak hanya seluruh keluarga Ahab, tetapi segala yang berhubungan dengannya dan bahkan halamannya juga.
Sebuah perebutan kekuasaan dengan cepat berubah menjadi sebuah mandi darah. Berpindah ke Samaria, Yehu menghadapi sebuah delegasi dari pengadilan di Yerusalem, dan dengan kekejaman yang tidak kenal belas kasihan dan tanpa alasan yang nyata dibunuhnya mereka semua. Akhirnya, ia menarik ibadah Baal, dengan menaruh ibadah mereka pada Rumah ibadah dengan dalil persembahan korban. Kemudian, ia menyuruh prajurit-prajuritnya untuk melepaskan mereka dan membunuh mereka semua. Rumah ibadah itu sendiri, dengan semua aparatus-aparatusnya diratakan dengan tanah. Ini adalah suatu pembersihan kekejaman yang tak terungkapkan dengan kata-kata. Tetapi, pemujaan terhadap Melqart dapat dimusnahkan. Yahweh akan tetap tinggal dan resmi, Allah Israel.


KERAJAAN ISRAEL PADA ABAD PERTENGAHAN KE- 9 DAN KE- 8
(Oleh: Benny Hutagalung/ Harry Eliakim Hutagalung/ Boy Levi Panjaitan/ Helon Simanjuntak/ Elwin C. E. Siregar/ Jans Pandapotan Siagian/ Eska Hastuty Silitonga/ Marsaldo Rajagukguk/ Fandry Simatupang/ Reonald Hutabarat)
1. Kegelapan Abad pertengahan.
Yehu membersihkan negaranya dari Ba’al Tyrian. Yehu berhasil menegakkan dinasti terlama di Israel sekitar 100 tahun. Yehu memerintah tahun 842-815 sM. Pada masa pemerintahan Yehu ternyata banyak hal yang tidak menyenangkan selama 50 tahun. Pada masa itu Israel menjadi lemah dan hamper kehilangan eksistensinya. Hal itu adalah akibat dari revolusi Yehu yang menyebabkan terputusnya hubungan dengan Penesia dan berakhirnya aliansi dengan Yehuda. Pada masa pemerintahan Yehu juga terjadi banyak pertententangan. Pertentangan yang terjadi adalah timbulnya zaman kegelapan yang mana pemerintahan hampir kehilangan keberadaan kemerdekaannya. Ini adalah akibat dari kebingungan dan keadaan penduduk perbatasan Israel yang tidak terkontrol .
Melalui penghapusan, bangsa Israel diselamatkan dari penyembahan berhala. Struktur pemerintah Omri diberhentikan yang menghasilkan kutukan, yang mengembalikan posisi Israel kepada sebuah posisi yang kuat. Akan tetapi, akibat dari kudeta yang terjadi maka timbul ketidakpuasan masyarakat. Kebijakan ekonomi Yehu tidak sanggup untuk menciptakan kemakmuran. Yehu memang berusaha menumpas Baal Meghort dari wilayahnya dalam bidang kegamaan, tetapi Yehu tetap gagal untuk menegakkannya karena kultus dewa-dewa setempat masih ada.
Di samping itu Israel dilumpuhkan dari dalam. Pemusnahan seluruh istana dan seluruh pegawai Istana yang telah merampas bagian yang terbaik di istana itu dan memperkenalkan cara pemujaan Ba’al di Yerusalem. Menurut penulis Kronika Yerobeam dahulunya menggunakan kerajaan, untuk membunuh saudara dan pendukungnya di dalam suasana perlawanan. Atalia merasa bahwa posisi dia sendiri tidak aman. Ketika Yerobeam meninggal terlalu cepat dengan pemerintahan yang pendek dan tidak berpengaruh, dia disukseskan oleh putranya Ahazia, setelah itu Atalia merebut kerajaan yang sepertinya dengan bantuan orang yang disewa. Tetapi semua orang yang setia terhadap pemerintahan lalu menentang Atalia, sejak Atalia menyenangi cara pemujaan Balai Melgart daripada Tuhan di Yerusalem yang berdampingan dengan Yahwe.
Kejadian di Yehuda juga mengikuti seperti yang terjadi di Israel yaitu jauh dari ketenangan. Satu pertentangan yaitu dengan munculnya periode bencana kegelapan yang mana di Utara hampir semua kehilangan keberadaan kemerdekaannya. Kemudian ketidakmampuan membuat Hazael menjadi lemah. Shalmaneser menyerang daerah Selatan mulai dari gurun Haran dan daerah Barat di sepanjang Phonikan. Dia menerima pajak dari Tire, Sidon dan Yehuda.
Tetapi orang Assyria tidak tinggal menetap, sebaliknya mereka memiliki pasukan perang yang hebat. Dalam langkah selanjutnya Shalmaneser sibuk melakukan kampanye di tempat lain, tetapi dengan munculnya pemberontakan dari salah satu pihak anaknya yang selama 6 tahun memisahkan diri dari kerajaannya, anaknya beserta Shamshiadad pada tahun 824-812 telah memperbaiki jabatan di kerajaan terlebih dahulu dan mereka memperkuat strategi untuk melawan negara tetangga di sekitar kerajaan , terutama dalam melawan raja Urartu di gunung Armenia, dimana perang ini menjadi suatu peperangan yang paling berbahaya. Sepanjang riwayat hidup Shalmaneser III dan Shamsiadad V yang pertama mengakuinya adalah orang Medes dan orang Persia. Shalmaneser adalah anak dari Asyur-nasir-pal. Shalmaneser III beberapa kali menyerang bangsa-bangsa kecil yaitu Israel, Siria, dan Hamat. Menurut surat wasiat setelah kematian Shamsiadad, maka ratu Semiramis bertindak sebagai pemimpin kerajaan selama empat tahun. Selama itu para golongan rakyat kecil juga memperoleh perlakuan yang adil.
Hazael bebas dari pertempuran Israel-Yehuda dan Yehuda kehilangan seluruh daerah di seberang sungai Yordan sampai ke daerah Syria di daerah perbatasan Arnon ( 2 Raja-raja 10 : 32 ; Amos 1 : 3 ). Hazael digantikan oleh anaknya yang bernama Yehoahas. Anaknya Yehoahas memerintah pada tahun 815 – 801. Yehoahas dan pasukannya pergi bertempur karena keadaan kerajaannya semakin memburuk dan untuk mencari kemenangan. Dia diijinkan oleh Hazael dan memberinya seorang pengawal dan dia hanya menggunakan sepuluh kereta perang dan limapuluh penunggang kuda, ditambah sekelompok tentaranya sekitar 10.000 orang. Sementara Ahab mengarahkan duaribu kereta tempu di Qarqar, kekuatan Syria juga mempercepat jatuhnya pesisir daratan ke tangan Palestina dan untuk menghindari serangan Yehuda harus rela membayar pajak yang begitu besar, sama seperti Israel dengan seluruh wilayahnya. Hal sama juga terjadi di Galilea yang berada di seberang sungai Yordan, di Esdracion dan daerah-daerah kecil di sepanjang pantai dan sebagian tanah jajahan Damaskus. Hal ini dimanfaatkan oleh banyak negara-negara tetangga untuk menyerang dan berbuat sesuka hati.
Dalam tahun-tahun ini sekitar 837-800, Yehuda berusaha mengurangi perselisihan yang terjadi di dalam negeri yang sangat membuat Yehuda menjadi lemah dan mengurangi serangan dari Syria. Yoash adalah orang yang menggantikan Atalia. Yoash harus memberi pajak kepada Hazael dan itu merupakan hal utama yang ingin dihapuskannya. Sejak saat itu kejayaan istana mengalami peningkatan. Jehoiada yang menjabat sebagai pemimpin daerah kelompok kecil.
Walaupun Yoash hidup dengan berkelimpahan tetapi itu tidak menjadi suatu yang membanggakan. Penulis Kronika menegaskan bahwa kebaikan raja berasal dari pengaruh Jehoida. Setelah Yoash meninggal, pemberontakan dari banyak pihak datang, seperti dari golongan para pendeta, membiarkan banyak pengaruh untuk menyembah berhala. Tidak ada pendekatan penyelesaian untuk hal itu. Hal itu kemungkinan disebabkan karena kegagalan pasukan perangnya atau karena alasan lain. Sebelum Yoas melakukan pemerintahannya, Yoas telah bersikap tegas. Setelah dia mati karena dibunuh ia digantikan oleh anaknya Amaziah.
2. Kebangkitan Israel pada abad ke-8
Pada abad ke-8 membawa pada suatu perubahan akan keberuntungan yang sudah direncanakan Israel dan Yehuda kepada puncak kekuatan dan kemakmuran yang tidak pernah dirasakan seperti pada masa Daud dan Salomo. Hal ini harus ditunjukkan dalam suatu kenyataan berdasarkan peraturan-peraturan yang ada di Israel. Tetapi alasan utama kaum awam atas pengembalian kebahagiaan ini adalah karena Israel merupakan ahli waris.
Pengaruh Damascus tiba-tiba berakhir ketika Adad-Hirari pada tahun 811-784 sM menjadi seorang yang berpengaruh di Asiria. Shalmaneser III membuat banyak serangan di daerah Syria. Damascus tidak berdaya kekuatannya dan berakhir, selanjutnya rajanya digantikan oleh Benhadad II, anaknya dan pengganti Hazael yang mati di dalam peperangan. Israel yakin bahwa mereka tidak akan meloloskan diri. Adad-nirari juga melakukan peperangan disepanjang Tire, Sidon, Edom dan negara-negara lain. Tetapi anggapan terbesar lebih besar daripada kemenangan itu sendiri yang mana Damascus tidak menyerang Israel dengan pasukan militernya.
Pada tahun 786-746 sM setelah kematian Yoas, ia digantikan oleh putranya yang bernama Yerobeam II. Yerobeam melakukan pengusiran terhadap pasukan Aram dari Israel dan memperluas wilayah kekuasaan kerajaannya. Pada abad ini kenyataannya sistem sosial dihancurkan di Israel Utara dan hampir tidak ada administrasi negara dari Yerobeam. Pelayan Samaria mungkin membayar pajak tapi kelihatannya menunjukkan sebuah sistem rumusan administrasi Salomo. Tapi kita tidak dapat mengatakan tentang beban apa yang dikenakan tetapi kemungkinannya adalah berupa pajak atau yang lainnya. Tentu bagaimanapun banyaknya warga negara yang berusaha merendahkan diri adalah kekerasan yang tidak penting. Dan negara melakukan sedikit atau tidak sama sekali mampu meringankannya. Kesatuan Israel seperti Amos yang kita lihat dibuat oleh kemasyuran ketidakpedulian dan sebuah perbedaan yang tak pantas antara kekayaan atau jumlah yang luar biasa dan kemiskinan petani yang kecil, yang status ekonomi terbatas.
`3.Masalah yang Timbul Israel
Ada banyak masalah yang terjadi di Israel. Salah satunya adalah adanya perbedaan yang tidak pantas antara kaum yang kaya dan kaum yang miskin. Selain itu juga, ada pula para hakim yang mau disuap sehingga yang miskin susah untuk memperbaiki kehidupan. Di dalam peningkatan jumlah kekayaan, kaum-kaum petani dirampok dan dicabut hak milik mereka terhadap rumah mereka .Kenyataannya adalah waktu struktur Israel yang telah dijalani seorang perubahan radikal dan juga perubahan karakter. Dia telah asli menjadi sebuah bentuk federasi yang menyangkut suku di dalam perjanjian dengan Yahwe, melalui itu telah mengetahui kekosongan dari penghukuman dan kekerasan di hari pertama. Struktur sosialnya telah menjadi satu kesatuan tanpa kelas perbedaan. Yang mana di dalamnya dasar dari semua kewajiban sosial adalah perjanjian Yahwe dan di dalamnya semua perselisihan diputuskan oleh perjanjian persetujuan hukum. Sekarang semuanya itu telah berubah. Kenaikan dari Monarki dengan organisasi yang membantu dari kehidupan yang telah dikirim basis yang efektif dari kewajiban sosial kepada pusat dan bersama-sama dengan perkembangan dari aktivitas lain, telah menciptakan sebuah kelas hak, memperlemah kesukuan dan menghancurkan karakteristik solidaritas dari sosial yang menyangkut kesukuan. Lagipula penyerapan dari banyak orang-orang Kanaan yang mana tidak terinterigasi dengan system yang menyangkut kesukuan dan yang juga merupakan latarbelakang dari feodal. Ini menunjukkan hal mendasar yang membuat agama negara bagian ini menarik. Hal yang menarik pula adalah tata cara penyembahan berhala dan yang lebih buruk dan memiliki ketentuan dan persetujuan. Persetujuannya adalah cara pemujaan itu dikatakan baik sepanjang cara penyembahan berhala itu hanya untuk meredakan dewa dengan ritual yang didalamnya terjamin dari Statusquo.
Pendeta lokal tempat suci dan penyembahan berhala mereka tentu saja tidak bisa, sama seperti kependetaan dari daerah penyembahan berhala. Mereka memiliki kantor dan orang hebat dari negara bagian itu Kebanyakan mereka nampaknya menyerahkan sepenuhnya kepada orde atau perintah itu. Diperkirakan Izebel ingin menikmatinya sampai akhir hayatnya setelah dilihat dari tujuan yang ingin segera dicapai oleh bangsa Yehu mereka tadinya.
Meskipun demikian, ini adalah pikiran yang menyatakan bahwa ini adalah kecurang Israel. Walaupun demikian dia adalah salah satu dari optimisme yang telah ditimbulkan karena sebagian merasa bangga akan kekuatan negara itu. Kebenaran adalah suatu perbuatan iman Israel yang telah berlangsung. Tindakan Yahwe yang sangat baik pada Israel secara yakin menceritakan pemujaan dan perjanjian-Nya dengan Israel pada waktu tertentu dipertegas lagi. Tampak bahwa Yahwe memberikan perlindungan pada semua bangsa pada waktu yang akan datang.
Hari Agung Tuhan dari campur tangan dalam kitab Keluaran mengatakan bahwa ada penaklukan dan perang suci. Kitab Hakim-Hakim mengatakan bahwa harapan tumbuh dari sebuah hari kedatangan ketika Tuhan akan campur tangan terhadap Israel sehingga dapat menghancurkan musuhnya.
Dari karir Amoslah yang memulai berbicara tentang pertengahan dari abad. Kita hanya tahu mengikuti fakta bahwa ia berasal dari Tekoa di sekitar Judea dekat hutan belantara. Bahwa dia bukan anggota dari petunjuk ramalan, tetapi peternak domba yang hanya ingin membuktikan pengertian dahsyat dari panggilan untuk berbicara kata Tuhan. Dia memiliki satu kesempatan untuk mencurahkan dirinya sendiri di kuil raja Betel. Dia dilarang berbicara di sana. Surat Amos menceritakan kejahatan terutama sekali hal tentang ketidakjujuran dimana yang kaya mengelilingi yang miskin, tetapi juga pelanggaran susila dan pengejaran sembrono dari kemewahan dimana melemahkan karakter nasional.
Amos menyatakan bahwa Israel memiliki banyak kesalahan yaitu: menjual orang benar karena uang, menjual orang miskin karena sepasang kasut, menginjak kepala orang lemah ke dalam debu, membelokkan jalan orang sengsara dan anak dan ayah pergi menjamah seorang wanita, serta mereka merebahkan diri di samping setiap mezbah di atas pakaian gadaian orang, dan minum anggur orang-orang yang kena denda di rumah Allah mereka. Istri-istri raja (darmawanita) juga melakukan penindasan kepada perempuan-perempuan dari kaum kecil. Orang-orang Israel khususnya kalangan atas pergi ke Betel seharusnya pergi ke Betel untuk beribadah dan mereka juga rajin dalam memberikan persembahan. Akan tetapi, persembahan yang mereka berikan adalah berasal dari perbuatan jahat mereka dengan menindas jaum yang kecil seperti para petani. Amos mengatakan bahwa mereka boleh memberikan persembahan asalkan mereka memberikannya dari hasil usaha mereka dengan tidak melakukan penindasan kepada kaum yang lemah.
Pikiran Amos tidak pernah menggunakan kata perjanjian. Dia menilai dosa warga negara menentang balik perjanjian hukum dan menemukan pasangan mengerikan diterang keagungan Tuhan untuk Israel. Dia menyerang bangsa bahwa pemilihan kepercayaan dari Israel jaminannya adalah perlindungan atau kewajiban dari perjanjian akan dimasukkan oleh aktivitas pemujaan agama sendiri.
Setelah kemunculan Amos, maka muncul pula seorang nabi yang bernama Hosea. Hosea bekerja sebagai Nabi selama 20 tahun dengan beberapa kali masa istirahat. Latar belakang Hosea sangat berbeda denga Amos, tetapi berita yang disampaikannya sama dengan yang disampaikan oleh Amos. Namun ada perbedaan antara pemberitaan yang dilakukan oleh Hosea terhadap Amos yaitu bahwa berita yang disampaikan Hosea berisi ancaman dan peringatan akan datangnya malapetaka bagi kerajaan Issrael Utara, termasuk ancaman terhadap tahta Yerobeam II. Selama pemerintahan Yerobeam, Hosea kelihatan sudah datang untuk panggilannya melalui sebuah pengalaman pembantu rumah tangga tragis. Pikirannya tidak mungkin menjadi pasti, kelihatan bahwa istrinya yang sangat dia cintai menghianatinya dan penyimpangan di keluarga serta pelanggaran susila. Pengalaman ini niscaya penting untuk memberi surat Hosea. Ini bentuk karakteristik lukisan perjanjian ikatan sebagai ikatan pernikahan. Dia mengumumkan bahwa Yahwe sebagai tuan Israel, mengharapkan kepercayaan penuh bahwa seorang laki-laki mengharapkan istrinya tetapi Israel itu memuja Tuhan lain, melakukan perzinahan dan menceraikan puing keruntuhan umum.
Kemerdekaan kerajaan Israel dan Yehuda .
Para Nabi terdahulu adalah benar, mereka tidak menyukai sogokan dari nabi-nabi yang lebih pintar daripada mereka. Karena para nabi pintar ini meyakinkan bahwa ramalan mereka yang optimis tidak berdasarkan perkataan Yahwe, yang dikatakan menyolok dengan meramalkan, mengingkari dan menolak. Di dalam keyakinan yang luar biasa, para Nabi tidak bisa menerima dengan mudah. Para Nabi terdahulu sering mengajar secara berlebihan seperti pendahulu mereka dan memberikan latihan fisik yang berat yang tidak sesuai dengan estetika. Di dalam sesi pembelajaran mereka mengirim pesan yaitu ramalan yang puitis biasanya dari perhimpunan pujangga yang tertinggi.
Dan lagi para nabi banyak mengumpulkan orang-orang biasa untuk dijadikan nabi yang semula yang tidak mempunyai jabatan apapun. Meskipun jumlah pengirim pesan dalam bait suci sangat banyak, tetapi jumlah pelayan kultus termologinya sedikit. Beberapa dari antara mereka diurutkan secara kependetaan, dan ada diantara mereka yang kurang berfungsi selayaknya sebagai seorang yang kultus. Mereka adalah orang-orang yang dimana setiap berjalan dari tempatnyayang diharuskan meninggalkan perkataan Yahwe. Barang siapa yang mau datang menyembah akan mendapat beberapa pencobaan pemanggilan. Akhirnya seperti Bapa leluhurnya mereka mengambil topik dari awal mulai dan kelanjutannya untuk mengembangkan politik selama yang diketahui mereka berkumpul dan berjalan dalam revolusi.
Tidak seperti dewa-dewa yang lain yang paling keras mematuhi di didalam semua hukum perjanjian. Apakah masyarakat atau tersendirinya sejak mereka mendapat pesan dari yang mendirikan. Pengertian tentang perjanjian Yahwe dan tuntutan, tetapi sejak mereka telah aman bahwa Mesir melanggar persyaratan dan perjanjian dalam keterbukan pemberontakan perjanjian tuan besar. Hanya pesan yang bisa mereka dengar dari atas langit yang merupakan suatu keputusan Yahwe menuduh keduanya dan Hakim membawa pemberontaknya pada pemeriksaan pengadilan dan akan disingkirkan di atas mereka. Dia mencoba lagi saat masyarakat dalam bahaya dan akan membawa kembali perjanjian yang terkutuk di atas mereka dan menyerang mereka. Tetapi hal itu bertentangan dengan nabi wanita serta menemukan kalimat janji yang melekat di dalam Iman Israel. Yang mana mereka tidak bisa satupun melakukan penyerangan mereka tidak menerima itu di dalam bentuk populer. Keadaan Negara mulai dari kehancuran mendorong ke dalam masa depan dan memberikan dimensi baru.
AKHIR DARI KERAJAAN ISRAEL
( oleh: Chintya Megaria Situmeang, Daniel Turnip, Dony Harkit Sagala, Fran Siahaan, Janry Simanjuntak, Paima Pardede, Winda Sesilia Simbolon)

Setelah kematian Yerobeam II (746 sM) kerajaan Israel mengalami kemunduran. Ia diganti oleh anaknya yang bernama Zakaria. Namun Zakaria dibunuh setelah memerintah kerajaan Israel selama enam bulan (746-745) oleh Shallum Bin Jabesh. Kemudian Shallum mengambil alih kerajaan Israel dan ia memerintah selama satu bulan saja dan kemudian ia dibunuh oleh Menahem (2Raja-raja 15:13-14).
Pada saat Israel mengalami kehancuran baik dalam bidang politik, sosial, maupun agama. Mereka melakukan persundalan dan menyembah Baal, namun mereka tetap percaya kepada Yahweh karena didaerah mereka masih terdapat ritus-ritus yang menyangkut dengan teknik pertanian. Jadi, mereka mengikuti ritus-ritus dan itu berarti bahwa mereka juga harus menyembah Baal selain kepada Yahwe. Lalu muncullah seorang nabi yang bernama Hosea untuk memperingatkan orang-orang Israel. Selain itu hukum juga tidak berlaku di Israel, tiga orang raja Israel dibunuh oleh kalangan atas.
Kemunduran bangsa Israel juga terjadi seiring dengan datangnya bangsa Assyria ke Siria dan Palestina. Bangsa Assyria datang untuk menduduki Israel. Raja yang memerintah Assyria pada saa itu adalah Tiglath-pileser III (745-722). Perlawanan yang dilakukan oleh Tiglath-pileser berbeda dari nenek moyangnya yang dulu, bahwa mereka tidak mengumpulkan pajak yang cepat, tetapi pemerintahan Assyria tetap dalam keuntungan. Tiglath-pileser menganut politik yang juga tidak sama dengan cara sebelumnya.
Tiglath Pileser menghukum pemberontak atau orang-orang taklukannya dengan cara memindahkan atau mengasingkan orang-orang taklukannya tersebut ke negara lain, untuk mencegah munculnya pemberontakan yang terorganisasi oleh bangsa taklukannya itu.
Pada masa pemerintahan Menahem (745-738), Tiglath-pileser III menyerbu Siria dan kota-kota pantai Funisia serta menggabungkan beberapa wilayah. Tetapi, Menahem membayar upeti kepada Assyria. Ia berharap bangsa Assyria tidak menyerangnya. Namun Assyria tidak berpihak pada bangsa Israel, bahkan Tiglat-Pileser ingin menguasai seluruh wilayah kerajaan Israel. Ia membuat batas kerajaan Assyria sangat dekat dengan Israel, sehingga Assyria bisa langsung mengawasi Israel dan tidak akan membiarkan Israel keluar dari kekuasaannya.
Namun Israel tetap berusaha melawan bangsa Assyria. Beberapa tahun kemudian, pengganti Menahem yang bernama Pekah (737-732) membentuk suatu kelompok anti Assyria bersama raja Siria. Dibawah pemerintahan Pekah, Israel membuat marah bangsa Assyria. Bangsa Israel juga mengajak Raja Yotam dari Yehuda (742-735) untuk bergabung melawan Assyria. Tetapi Ia menolak, oleh karena itu Yotam diganti oleh anaknya yang bernama Ahas (735-715).
Pada masa kepemimpinan Ahas, dia mendapat serangan dari Israel dan Siria secara bersamaan. Selain itu Edom yang merupakan daerah selatan Yehuda juga mulai memberontak. Keadaan Ahas menjadi semakin terjepit. Lalu Ahas meminta pertolongan kepada raja Assyria. Tetapi seorang nabi yang bernama Yesaya melarang ia agar tidak meminta pertolongan kepada raja lain, tetapi hanya kepada Tuhan. Namun, Ahas tidak memperdulikan perkataan nabi Yesaya. Lalu Assyria menolong bangsa Yehuda, tetapi itu berarti bangsa Yehuda juga harus tunduk kepada Assyria.
Tiglath-pileser III menolong bangsa Yehuda dengan cara menyerang Damaskus (Siria dan Israel). Siria di binasakan (732 sM) dan sebagian besar wilayah Israel di kuasai oleh Assyria. Setelah itu raja Pekah dibunuh oleh Hosea dan kemudian Hosea menjadi raja atas Israel. Hosea menyerahkan diri kepada Assyria, sehingga Assyria mengijinkan Hosea untuk memerintah sebagian kecil wilayah Israel yang masih tersisa.
Pada masa itu, terjadi pergantian raja juga di Assyria. Shalmaneser V menggantikan Tiglath-Pileser III. Setelah Shalmaneser V memerintah (727-722), raja Hosea memberhentikan pemberian upeti kepada Assyria. Ia malah membuat perjanjian dengan orang-orang kuat yang berkuasa di Mesir, untuk membantunya melawan bangsa Assyria (Hosea 12 : 11). Perjanjian tersebut membuat raja Shalmaneser marah.
Pada tahun 724 sM, Shalmaneser menyerang dan mengepung kota Samaria, ibukota Israel selama dua tahun. Wilayah Israel menjadi hancur di bagian perbatasan dan kermampuan pemimpin serta pasukan orang-orang Israel menjadi kehilangan semangat untuk membalas dendam kepada Assyria Selain itu terjadi juga kejahatan-kejahatan sosial seperti yang telah dikatakan Amos, kelompok bertentangan dengan kelompok, suku bertentangan dengan suku, sehingga Israel menjadi terpecah dan Assyria semakin berkuasa di wilayah Israel.
Selain itu juga terjadi kejahatan politik (Hosea 7:1-7; 8:4) dan penyimpangan agama. Orang-orang Israel meminum anggur, melakukan perzinahan dan persundalan di bawah perlindungan agama ((Hosea 4:11-14). Bangsa Israel menjadi seperti kanibal (Yesaya 9:19). Mereka melakukan kesalahan kepada Yahweh dan mereka menjadi tidak setia kepada Yahweh (Hosea 8:4, 10:3-13). Oleh karena itu, bangsa Israel mendapat malapetaka dari Yahweh (Hosea 9:11-17; 13:9-16).
Setelah Shalmaneser meninggal, bangsa Assyria dipimpin oleh Sargon II (722-705). Dibawah pemerintahan Sargon II, kota Samaria menjadi semakin jatuh, Sargon menghancurkan seluruh kerajaaan Israel. Sargon lalu membuang orang-orang Israel kenegara-negara lain, seperti yang dilakukan oleh Tiglath-pileser dan wilayah Israel kemudian ditempati oleh orang-orang dari negara lain.



Kerajaan Yehuda
PEMERINTAHAN KERAJAAN YEHUDA
(Oleh: Adriyani E. G. Sitanggang, Aku Rindu Iring Tuhan ARIT Tambunan, Andi Joko Limbong, Andro Hisar Parada Sibarani, Bustanil R. Simanjuntak, Dairi Ivan R. Sihombing, Valiant J. Tampubolon )


d. Kondisi Internal Yehuda: 922-873. Sejarah internal Yehuda membuat perbandingan yang cukup menumpulkan pembacaan. Disana tidak ada perubahan dinasti. Walaupun disana terjadi goyangan antara sinkritisme dan kecenderungan yang konservatif, ada juga hutang kepada dinasti yang stabil dan tradisi ibadah, dan perbandingan homogenitas dari populasi yang ada. Tidak ada yang kagum terhadap aristokrasi Yerusalem. Pemerintahan lahir dikarenakan Kehidupan mewah dari Salomo dan yang bukan latar belakang Israel, kehidupan yang internasional, dan sediki rasa pemujaan Yahwe yang alami. Kehidupan rakyatnya sangat simple bersosialisasi dan tradisi agama. Namun pada umumnya sangat tidak aman, persaingan antar wilayah, dengan pendeta Yerusalem biasanya turun dalam konservasi dimana agama sangat ditekankan. Masa Rehabeam dan Abijah sifat Internasional dan toleransi tingkat atas, dan percampuran kepercayaan yang ditoleransi Salomo berlanjut. Rehabeam anak Salomo dari ratu suku Amon, Naamah, ibu Abijah Maacah rumah dari Absalom, dan bagiam dari suku Aram. Maacah menjadi symbol bahwa telah menyembah dewa Asherah. Kekuasaan berlanjut, ritual percampuran agama, termasuk prostitusi dan homoseksual.
Para penyembah Yahwe sangat tidak senang dengan hal tersebut, dan selama masa Asa (913-873) reaksi ini akan timbul. Asa anak dari Abijah, menguasai takhta. Selama menjadi minoritas Maacah beraksi dan tetap pada kepercayaannya. Tetapi setelah itu ada reformasi akan perubahan dalam dinastinya dan anaknya Yosafat yang menjadi raja akan Yehuda (873-849), membebaskan Yehuda dari perpaduan kepercayaan tersebut. Akhirnya perang dengan Israel terjadi dengan dinasti Asa, Yehuda masuk dalam masa perdamaian dan sejak itu mereka masih mengontrol rute menuju bagian selatan Gulf dari Aqabah, dan sejak saat itu kesuksesan juga terjadi pada Yehuda.
Bagian berikut adalah oleh: David Nababan/ Donna K. Sinaga/ Derita N. S. Hutagaol/ Edward Purba/ Desmon Hutagaol/Wellem Munthe)
Kerajaan Yosafat ( 873-849 SM )
Kita telah melihat bagaimana Yosafat menjadi penguasa penuh pada masa Omri dalam keagresifan politik mereka dan bagaimana persekutuan ini membawa kekuatan yang baru dalam kemakmuran kepada Yehuda. Yosafat seperti Asa raja sebelum Dia yang pantas dipuji dengan ketulusan hatinya kepada Yahwe yang menindas atau melawan kebiasaan menyembah berhala yang berhubungan dengan kerajaan ( 1 Raja-raja 22 : 43 ). Pada bagian ini tali kedengkian tertutup dengan Israel, cara memuja Dewa Ball tidak membuat kemajuan di Yehuda dalam sepanjang hidupnya.
Yosafat kelihatannya hanya ingin menunjukkan kesanggupannya sebagai raja. Kita da[at mengerti ( 2 Tawarikh 19 : 4-11 ) bahwa Dia menjalankan perbaikan pengadilan, melapiskan waktu yang sedang berlangsung. Menghormati administrasi dari bayaran biasa yang ditetapkan oleh sistem nenek moyang dari instalasi yang ditentukan oleh hakim dalam kota. Hakim mungkin adalah seleksi yang pertama dari antara pengurus lokal mereka sendiri. Dalam waktu yang sama, Yerusalem memperoleh kekuatan yang dinamakan sebuah pengadilan. Dari permintaan, diketahui oleh kepala imam keagamaan dan kuda tua dari Yehuda dalam bagian pemerintahan. Sejak peralihan administrtasi dari keadilan oleh pengurus lokal, pertama untuk penyelesaian hakim dari jumlah mereka kemudian hakim yang ditentukan kerajaan, yang tentunya lengkap sebelum pembuangan, itu bukan alasan untuk meragukan sejarah dari fakta ini.
Hal ini bermaksud membersihkan prosedur pengadilan yang biasa, akar ketidakadilan dan juga melengkapi kekurangan sebelumnya. Perlengkapan yang cukup memadai untuk menyelesaikan perkara perselisihan. Jika keadaan kota lemah, (Yosua 15 : 21-62, 18 : 21-28) menggambarkan kondisi dari peride ini seperti jumlah dari yang percaya. Hal ini tampak bahwa yosafat juga membuat urusan politik. Keuangan yang teratur oleh organisasi dari daerah administrasi ke dalam negeri yang agaknya selesai dibagi.
Keberhasilan Yosafat; perebutan kekuasaan Atalia.
Dendam dalam kesestran kepada Yahwe, persekutuan Yosafat dengan Israel menghasilkan buah, yaitu Yosafat berhasil seperti yang kita katakan dengan menikahkan putranya Yoram ( 849-843 SM ) dengan putri Athaliahdari Dinasti Omri (2 Raja-raja 8 : 16-24) Seorang wanita kuat dan jahat. Athali memperoleh kedududkan penting melebihi tujuannya dan memperkenalkan kebudayaan dari Ba’al di Yerusalem. Menurut penulis Tawarikh ( 2 Tawarikh 21 : 2-4 ), Yoram mengambil kekuasaan tertinggi diatas kematian semua saudara laki-lakinya bersama dengan anggota atau pasukan mereka walaupun di sana tidak ada secarik bukti untuk hal dianjurkan oleh Athalia ( Dia yakin mampu akan hal itu ) karena Dia merasa posisinya sendiri menjadi tidak kokoh. Ketika Yoram meninggal tidak pada waktunya dan pemerintah tidak berkesan lagi ( banding 2 Tawarikh 21 : 18-20 ) dia berhasil ( 2 Raja-raja 8 : 25-29 ) oleh putranya Ahazia seperti catatan diatas, kurang lebih pada tahun penghapusan Yehu. Athali kemudian merampas singgasana itu, mati dengan menyalahgunakan pertolongan dari penbantunya sendiri. Semua memberikan apa yang layak bagi raja yang mungkin melawannya ( 2 Raja-raja 11 : 1-3 ) sejak Dia mengajarkan tentang Ba’al Melqart, kebudayaan atau kepercayaan kepada Tuhan memlihara Yahwe sepanjang masa di Yerusalem.
Ketika Yehuda mengikuti pola yang ada di Israel, tetapi jauh dari kebiasaan. Hal itu adalah ketidaksenangan bahwa raja Ba’al pernah banyak mengikuti diantara populasi Yehuda yang konservatif. Itu sedikit lebih dari sebuah kebiasaan dari peradilan dan dengan tidak kepastian dipanggil oleh banyak kejadian di sana. Lebih dari itu, memperlihatkan bagian kepada pembaharuan Yosafat. Itu kelihatan bahwa ketegangan sosial-ekonomi yang diamati di Israel. Yang tidak begitu dekat tanda di Yehuda, dengan hasil bahwa terkenal cukup besar kerusuhan tidak ada. Selanjutnya, Athalia dengan keyakinannya tidak nyata mengikuti. Dia tekah dikesampingkan, seorang wanita yang mendapatkan tahta dan Dia bukan Daud! Peraturannya tidak bersifat legitimasi dimata orang. Oleh karena itu, tidak lama (842-837 sM). Kematian anak dari Ahazia, Yoah itu telah disimpati dari Athalia oleh Bibinya, isteri dari Yehoiada, kepala imam ( 2 Tawarikh 22 : 11 ) dan menyembunyikan daerah kuil. Ketika anak ketujuh ( 2 Raja-raja 11 : 4-21 ).
Yehoiada yang membuat rencana dengan hati-hati bersama pegawai dari pengawal raja, telah dibawakeluar dalam candi dan mahkota raja. Athaliu mendengar kericuhan itu dan bergegas, menangis dengan penghianatan itu. Hanya menjadi pemimpin keluar dan menjalankannya dengan singkat. Candi dari Ba’al kemudian diruntuhkan dan imam itupun meninggal tetapi kita mendengar tidak selamanya, pertumpahan darah dan kemungkinan tidak akan ada. Orang-orang bergembira Yoas datang menjadi raja.
Ketika tidak dapat membuat hazal menyerah, Shalmaneser menekan di sebelah Utara sampai kepada Harun dan dari laut Palestina untuk merebut wilayah dari Tirus dan Sidon, dan Yehu raja dari Israel.
Tetapi Asyria belum datang dan mendiaminya. Sebaliknya, menarik tentara dengan pengecualian banyak dari mereka yang kurang serius ( 837 ) tidak dapat menganiaya keturunan dari sebelah Barat. Beberapa tahun kemudian Shalmaneser telah menempatinya dengan perang dan dengan adanya pemberontak dalam wilayahnya yaitu anaknya, dimana 6 tahun kerajaan kacau balau. Anaknya berhasil, Shamsi pada abad kelima ( 824-812 ), dapat mengembalikannya. Kemudian menguatkan posisinya diantara negara tetangga. Wilayahnya antara kerajaan Utara dalam pegunungan Armenia, dimana terdapat lawan yang berbahaya. Dalam sejarah dari Shalmaneser III dan Shamsi pada abad V, masa lalu menemukan sebutan pertama sekali dari Medes dan Pejians, orang Aryam.
Hazael diizinkan untuk berperang dengan Israel. Yehu tidak dapat menahannya dan kekalahan diwilayah trans Jordan utara sampai wilayah Moab dalam bagian Amon (2 raja-raja 10:32-..). Anaknya Yoahaz (815-801) baik saat itu; dia memiliki pengawal dan pasukan berkuda dan pasukan tentara sebanyak 10000 kaki. Ahab memiliki 2000 pasukan di Gorgor. Pasukan bangsa Aram mundur ke wilayah pesisir hingga Palestina. Sebagai Israel semua wilayah tertitorial didalam trans Jordan, dalam Esdraelor dan jauh dari laut dalam kekuasaan bangsa Aram. Israel mendapat status dalam wilyah kenegaraan Damaskus. Banyak negara tetangga dari Israel menyerang dan menghancurkan Israel dengan apa yang dapat mereka lakukan.
Kerajaan Yoram ( 849-843 )
Yoram memerintah di kerajaan Yehuda selama delapan tahun dan Ia menikah dengan seorang puteri Ahab. Namun pernikannya tersebut sangat mempengaruhinya sehingga Ia mengikuti menyembah Baal. Yoram memerintahkan untuk membunuh keenam saudaranya serta para pemimpin Yehuda. Hal ini dimaksudkan agar tidak ada lagi yang berkesempatan mengganggu pemerintahannya. Lalu Allah mengirmkan surat pada nabi Elia namun Ia tidak mau bertobat. Filistin dan Arab mengadakan serangan pada Yehuda dan menjarah istana serta membawa anak-anak raja kecuali Yoahaz yang akhirnya nanti menjadi pengganti ayahnya dengan nama Ahazia ketika Yoram meninggal akibat penyakit usus yang dideritanya.
Kerajaan Ahasia ( 843/842 sM )
Ahazia memiliki kesamaan dengan Ayahnya dan Ia mendapat pengaruh dari Ibunya. Atalia dan juga fisiknya memiliki kesamaan dengan Ayahnya. Ahazia hanya sebentar dalam menduduki tahta kerajaan. Ia mengadakan perjanjian dengan Yoram dalam hal memerangi negeri Aram. Setelah Yoram terkena luka dalam peperangan tersebut, Ahazia mengunjungi Yoram di Israel yang sekaligus menjadi akhir hidupnya karena Ia ikut dibunuh oleh Yehu.

Kerajaan Atalia ( 843/842-837 )
Atalia naik tahta untuk memerintah dalam enam tahun lamanya setelah Ahazia mati terbunuh. Pada masa pemerintahan Atalia, Ia ingin meneguhkan pemerintahnnya dengan membunuh seluruh keluarga raja. Namun Yoseba, anak permpuan Yoram yang menikah dengan imam besar Yoyada berhasil menyelamtkan Yoas, anak Ahazia. Rakyat menjadi penyembah berhala dan dewa-dewi selama masa pemerintahan Atalia.
KEADAAN KERAJAAN YEHUDA Tahun 700-an seb. M.
(Oleh: Boston Malau/ Chrisman Tohonan Pangaribuan/ Dedy Novan Lumbantobing / Riki Rikardo Simanjuntak/ Sandy Rodotua Sitompul/ Sugara Sangapan Barimbing/ Yusuf Albert Manalu)

Pada kuartal ke tiga Sekitar abad ke delapan, Israel Raya dihadapkan dengan keadaan yang sulit. Hal ini dapat kita lihat melalui berdirinya dua kerajaan yakni Israel dan Yehuda. Meskipun mereka telah mempertahankan kesatuan mereka melalui perang yang dilakukan terhadap bangsa lain serta menaklukkan musuh-musuh mereka baik dalam bidang politik. Namun keberadaan mereka terhambat oleh perkembangan zaman pada saat itu, dimana bangsa-bangsa lain telah lebih maju dibanding mereka. Dalam sejarahnya bangsa Israel yang menjadi suatu bangsa selama lebih dari 500 tahun, telah berhasil memperluas kekuasaan dengan kekuatan yang dimiliki mereka, namun Yehuda tidak dapat membuat pusat pertahanannya. Akibatnya, Yehuda selalu kewalahan saat mereka terdesak dalam mempertahankan kekuasaan di saat perang. Sejak pertengahan abad kedelapan Asyur kembali menyerang Israel sehingga kekuataan Israel melemah setelah melemah Asyur melakukan penghancuran terhadap daerah-daerah yang berada di Israel. Yehuda dapat mepertahankan keberadaan mereka selama satu setengah abad, serta pada saat itu juga Asyur memperluas kerajaannya tanpa menyerang Yehuda, namun mereka menguasai daerah-daerah yang berada di sekitarnya yang sudah mulai berkembang.
Yehuda di bawah pemerintahan Asyur: Ahas (735-715)
Raja Ahas berkuasa sekitar tahun (735-715). Ahas melakukan penolakan untuk bergabung dengan koalisi anti Asyur yang artinya dia tidak mau menuruti apa yang diinginkan oleh rakyatnya sendiri dan dia ingin bertindak sendiri, Yehuda menjadi terlepas dari bencana perang seperti yang terjadi pada Israel. Namun mereka tidak sebebas negara yang lain, hal ini disebabkan oleh karena pada waktu itu raja Ahas pergi kepada Tiglath-pileser untuk meminta bantuan, Ahas bersepakat untuk menyerahkan kebebasannya hal ini membuat Yehuda menjadi sebagai negara yang dipimpin oleh Asyur, atau disebut dengan negara vassal. Hal ini menyebabkan mereka menjadi negara vassal, yang membayarkan kewajiban bagi Asyur. Seharusnya keadaan ini dapat dihindari oleh bangsa Yehuda, Karena sebelumnya mereka telah mendapat peringatan dari nabi Yesaya. Namun peringatan nabi Yesaya itu tidak diperhatikan oleh raja Ahas. Ini menjadi salah satu faktor dari yang penyebab kehancuran.

Yehuda di bawah pemerintahan Ahas sehingga adanya kecenderungan sinkretisme
Kebijakan yang dilakukan oleh Ahas untuk berkoalisi dengan raja Asyur menyebabkan agama yang berada di Yehuda mengalami pencampuran dengan agama-agama Asyur. Dalam tradisi kebijakan yang dilakukan raja Asyur pemujaan biasanya dilakukan terhadap dewa tertinggi, tanpa menggantikan agama-agama asli, tetapi agama itu tetap tinggal bersama mereka dalam hidup beragama yang ada disana, hal ini menerangkan saat Ahas memasuki Bait Allah di Yerusalem. Ada suatu hal yang tidak dapat dipungkiri apabila suatu negara berkoalisi dengan negara yang lain, yaitu apabila terjadi koalisi maka keagamaan, bahasa, dan kebudayaan otomatis menjadi tercampur. Hal inilah yang ditakutkan oleh nabi Yesaya, sehingga dia melarang pelaksanaan koalisi dengan Asyur.
Ahas melakukan kebijakan dengan memilih provinsi yang baru, yaitu Damaskus dan dia membuat patung untuk penyembahan di sana dan ritual-ritual keagamaan dilakukan di sana, tempat itu pula dijadikan sebagai tempat untuk pembayaran upeti untuk kerajaan Asyur. Keberadaan Ahas sebagai raja tidak nampak lagi, karena kepercayaan mereka terhadap Yahwehh sudah tidak sepenuhnya lagi di wujudkan dalam kehidupan mereka, memang pada saat itu Bait Allah tidak ditutup. Pada masa kerajaan Ahas, praktek-praktek agama kafir telah dilakukan, ini dapat dilihat dengan banyaknya muncul berbagai agama selain kepercayaan terhadap Yahwehh, dan munculnya kepercayaan terhadap ilmu sihir. Pemerintahan Ahas dianggap sebagai saat-saat dimana terjadi kemurtatan terhadap Yahwehh, dan dapat disimpulkan bahwa pada saat inilah terjadi krisis kepercayaan terhadap Yahwehh. Pada saat itu pula para imam telah mengutamakan uang daripada peribadatan terhadap Yahwehh, serta mereka telah menjadi pengikut-pengikut orang yang tidak percaya terhadap dewa ba’al, bahkan mereka melakukan ritual untuk penyembahan dewa ba’al itu zaman paganisme terjadi pelanggaran terhadap perjanjian Yahwehhh mau tak mau mengarah untuk meninggalkan hukum perjanjian.
b. Kondisi sosial ekonomi di Yehuda
Pemerintahan Ahas tidak hanya menyebabkan kemerosotan di bidang keagamaan, tetapi di bidang sosial juga. Yehuda mengalami kemerosotan pada kehidupan sosial mereka, mereka banyak mengalami masalah perekonomian. Hal ini disebabkan oleh pendapatan yang berkuarang akibat diadakannya pengumpulan pajak dari masyarakat untuk diberikan kepada raja Asyur sebagai upeti. Pada saat ini rakyat merasakan penderitaan yang sangat parah. Permasalahan sering terjadi antara pemilik tanah dengan petani, pemilik tanah melakukan penindasan terhadap petani dan orang miskin serta sering berlaku tidak adil. Sehingga masyarakat miskin tidak punya pilihan selain diam. Sementara orang kaya hidup dalam kemewahan mereka, tanpa memikirkan tentang permasalahan yang menimpa orang lain. Tampaknya agama resmi tidak ada lagi, serta penolakan secara efektif yang menentang posisi untuk mengkritik atau kebijakan Negara atau tingkah laku para bangsawan yang membimbing mereka tidak ada. Tentunya kemerosotan sosial dan keagamaan telah terjadi sejak lama di Yehuda akibat terjadinya koalisi. Secara arkeologi, ekonomi, sosial nasional, didukung oleh Ozia dengan mendirikan industri tenun dan pencelupan di Debir.

B. PERJUANGAN UNTUK KEMERDEKAAN Hizkia: (715-687 / 6)
Kebijakan Hizkia
Pemerintahan Ahas yang menjadikan kerajaan Yehuda tunduk terhadap Asyur telah berakhir. Hal ini terjadi karena raja Ahas digantikan anknya sendiri, yaitu Hizkia. Pada masa pemerintahan Hizkia ini kelihatan ada kemungkinan untuk melakukan hal-hal yang baik demi kemerdekaan Yehuda dari Asyur. Hizkia melakukan kebijakan dengan hati-hati untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, dan dia tidak ingin lagi bangsanya terjatuh seperti pada saat ayahnya memerintah.
Kebijakan yang dilakukan oleh hizkia meliputi kebijakan dalam faktor politik dan faktor keagamaan. Penolakan terhadap kepercayaan terhadap dewa Asyur dia lakukan dengan menghancurkan tempat-tempat penyembahannya, serta menghancurkan patung-patung dewa Asyur. Contoh patung yang dihancurkan hizkia adalah patung ular yang terbuat dari perunggu. Penghapusan terhadap penyembahan ba’al merupakan tujuan utama yang dilakukan oleh hizkia. Selain itu dia juga berjuang dalam menyatukan agama dan politik yang terdapat di Israel dan Yehuda. Hizkia menjadikan Yerusalem kembali seperti semula, yang menjadi tempat peribadatan yang menyatukan bangsa itu.
dalam bidang politik, dia melakukan reformasi terhadap kebijakan yang dilakukan oleh ayahnya terdahulu, dia memberontak terhadap bangsa Asyur dengan menghentikan pembayaran upeti yang dilakukan sebelumnya.
Hizkia melakukan kebijakannya disebabkan faktor internal, yaitu dia memperhatikan keadaan rakyatnya yang mengalami penderitaan yang disebabkan pajak yang dipungut dari masyarakat itu sendiri yang menyebabkan keterpurukan terhadap masyarakat, serta dengan semangat untuk merubah suasana, , serta adanya keinginan dari rakyat untuk merdeka dan bebas dari tekanan yang dilakukan oleh Asyur. Selain itu peringatan yang diberikan oleh nabi Yesaya kepada bangsa Yehuda menuntut dia untuk membawa bangsanya itu kepada agama mereka yang sesungguhnya yaitu kepercayaan terhadap Yahwehh. Penyembahan kepada dewa-dewa Asyur tidak dapat dihapuskan,dan terjadi pemberontakan pada saat itu.
Hizkia dan Sanherib
Ketika raja Sargon digantikan oleh putranya, Sanherib (705-689), ada kesempatan yang diperoleh bangsa Yehuda karena Sanherib adalah seorang pria yang tidak bijaksana dan tidak terampil. dalam Kesempatan ni Hizkia mempunyai kesempatan yang tepat untuk menolak kebijakan yang dilakukan Asyur, yaitu pengumpulan upeti dari rakyat Yehuda, dan dia melakukan dan membuat langkah-langkah yang diperlukan untuk mempertahankan kemerdekaan. Saat ini adalah masa pelepasan diri dari pemerintahan Asyur.

Timbulnya pemberontakan
Ketika Sargon mati dalam perjalanan dalam sebuah pertempuran yang besar dan Sanherib baru saja naik tahta menjadi raja, dan itu ketika dia harus menghadapi pemberontakan di dalam kerajaan-Nya, pangeran yang telah mempertahankan kemerdekaan melawan Sargon bagi kebanyakan bagian dari masa pemerintahan raja ini, memberontak lagi tanda bahwa dia sebagai raja (703). Butuh waktu beberapa bulan sebelum Sanherib bisa mengusirnya peristiwa itu terjadi bersamaan pecahnya pemberontakan di barat. Mesir juga mengirimkan bala bantuan pada saat itu. Ketika revolusi menyebar ke seluruh Palestina dan Suria terbentuk koalisi yang cukup kuat. Salah satu pemimpinnya adalah raja Tirus. Sementara Asdod dan Gaza tetap tenang, sedangkan Moab, Amon, Edom adalah negara yang terlibat, tetapi hal ini tidak menimbulkan perlawanan ketika Sanherib menyerang. Yesaya memperingatkan bahwa seluruh masalah formal hal mereka adalah sebagai kebodohan dan sebuah pemberontakan melawan Yahweh, sehingga Hizkia dikirim ke federasi sebagai utusan ke Mesir untuk merundingkan sebuah perjanjian. Bahkan, ia menjadi salah satu pemimpin pemberontakan. Raja Ekron, yang telah setia kepada Asyur, sehingga Hizkia dan rakyatnya menjadi tahanan di Yerusalem. Hizkia, datang kepada Sanherib untuk mempelajari dan mengadaptasikan diri terhadap semua kebijakan yang terjadi di sana. Oleh karena itu dengan waktu yang singkat dia mengetahui hal-hal yang terjadi di sana, dan dia mampu memanfaatkan itu untuk melakukan pemberontakan dan hasilnya adalah pemberontakan yang mereka lakukan berhasil.

Pertanyaan untuk ujian:

1. Buatlah perbandingan, di mana letak kekuatan dan kelemahan Israel dengan Yehuda pada Awal Dinasty Omri sampai akhir Dinasti Yehu dan raja-raja sejamannya di Yehuda.
2. Buatlah sebuah analisis terhadap perbandingan kehancuran Samaria dan Kerajaan Israel sekitar tahun 722 dan kejatuhan Yerusalem dan Yerusalem tahun 587.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Countdown

Pengikut